Bale Kohana, Inovasi Teknologi Hunian Tahan Gempa

Bale Kohana, Inovasi Teknologi Hunian Tahan Gempa

14 Oktober 2019 Administrator

Jakarta – Indonesia terletak di pertemuan tiga lempeng bumi yaitu lempeng Pasifik , Eurasia, dan Indo-Australia. Akibatnya, disamping Indonesia memiliki letak yang strategis juga memiliki ancaman bencana yang rentan. Bergeser dan bertumbrukannya lempeng biasanya berakibat pada gempa tektonik yang melanda di beberapa wilayah Indonesia. Gempa yang terjadi di Indonesia menimbulkan kerusakan parah, Terutama pada bangunan seperti hunian tempat tinggal. Tercatat pada tahun 2018 terjadi 6000 kali gempa bumi di Indonesia, sedangkan yang ditetapkan sebagai bencana nasional menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebanyak 50 kali dengan korban jiwa sebanyak 581 korban, luka – luka sebanyak 2166 korban, dengan pengungsi sebanyak 531.809 jiwa, dan 77.953 unit bangunan rusak berat.

Kerusakan akibat gempa bumi umumnya terjadi pada bangunan. Entah kerusakan parah, kerusakan sedang, maupun ringan.  Gempa berkekuatan tinggi dapat menyebabkan runtuhnya bangunan secara total. Dampak puing-puing dari bangunan yang runtuh merupakan bahaya utama dari gempa karena turunnya benda-benda berat dan besar dapat melukai masyarakat yang ada di sekitar bangunan. Apalagi banyak bangunan yang kontruksinya tidak mengikuti aturan teknis yang telah ditetapkan sehingga kesehatan bangunan menjadi rentan ketika terjadi gempa bumi.

Mengingat kerusakan yang dapat ditimbulkan dan posisi Indonesia yang rentan terjadi gempa bumi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) meluncurkan inovasi teknologi rumah tahan gempa, yaitu Bale Kohana. Bale Kohana adalah rumah yang dapat bersifat permanen dan juga dapat dibongkar pasang. Pembangunan rumah tahan gempa yang dilakukan oleh BPPT sudah berhasil dilaksanakan mulai dari tahapan desain, konstruksi, material, pengujian dan struktur dengan tipe 36. Bale Kohana memiliki dua kamar tidur, satu ruang tamu, satu kamar mandi dan satu ruang dapur.

Bale Kohana disebut juga rumah komposit, yang berarti rumah dengan berbagai macam bahan material, terutama material komposit polimer yang memiliki banyak kelebihan, seperti kuat dan lebih ringan dari material biasanya. BPPT telah didukung oleh mitra industri  dalam hal ini PT. Bondor Indonesia dan PT. Tata Logam Lestari, dalam penyediaan komponen bangunan prototipe pertama Bale Kohana. Bale Kohana didesain dengan konstruksi modular, pre-assembly, dan join interlock system yang dapat dibangun dengan waktu yang relative singkat. Juga telah melewati simulasi komputasi untuk prediksi ketahanan gempa menyesuaikan perilaku gempa itu saat terjadi.

Inovasi Teknologi ini pertama kali dirilis pada tahun 2016 dan disambut baik karena mengingat resiko Indonesia yang rentan bencana gempa bumi. Selain itu juga, negara – negara rentan gempa bumi seperti Jepang telah mengeluarkan inovasi teknologi sejenis, sehingga Indonesia pun harus mempunyai rumah tanggap darurat untuk bencana gempa bumi. Bale Kohana juga dapat mendukung program pemerintah yaitu Program Prioritas dalam Rencana Kerja Pemerintah 2020 yaitu Penguatan Infrastruktur Kawasan Tertinggal dan Ketahanan Bencana. Dengan dikeluarkannya Bale Kohana ini diharapkan dapat diproduksi secara massal dan segera dapat dimanfatkan bagi masyarakat umum.