BISKUNEO

BISKUNEO

07 Januari 2020 Administrator

Dilatarbelakangi dengan letak geografis, yang berada di wilayah dengan banyak aktifitas tektonik (cincin api pasifik – ring of fire), Indonesia terus menghadapi resiko bencana alam, seperti letusan gunung berapi, gempa bumi, banjir dan tsunami, yang menyebabkan kematian ratusan ribu manusia dan hewan, serta menghancurkan sarana prasarana sosial dan berakibat memutus akses terhadap sumber air bersih, pangan, energi/bahan bakar, sehingga korban/para pengungsi mengalami kesulitan untuk memperoleh kebutuhan pangannya. Hal ini membuat tingginya kebutuhan bantuan pangan (pangan darurat) yang mudah dikirimkan ke lokasi bencana, dan dapat langsung dikonsumsi, serta memenuhi kebutuhan nutrisi para korban/pengungsi selama kurun waktu, dimana dapur umum belum dapat beroperasi.

BPPT mengembangkan pangan darurat BiskuNEO, yang merupakan kependekan dari Biskuit ber-Nutrisi, Energi tinggi dan Orisinil Indonesia. BiskuNEO adalah makanan yang didesain untuk mengatasi masalah rawan pangan saat bencana alam, rawan gizi, latihan militer dll. BiskuNEO kaya akan nutrisi dan kalori tinggi. Satu bungkus BiskuNEO berisikan 8 biskuit lapis krim dengan berat total 100 gram, dan nilai energi sebesar 480 kalori, atau setara dengan konsumsi satu bungkus nasi. Keistimewaan dari BiskuNEO adalah pada kandungan senyawa Imunomodulator, yang berfungsi membantu meningkatkan sistim imun (daya tahan tubuh) sehingga para korban/pengungsi terhindar dari serangan penyakit infeksi seperti ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas). BiskuNEO menggunakan bahan baku lokal di atas 80%. Melalui Yayasan Baitul Mal BRI, BiskuNEO telah dibagikan untuk menolong korban/pengungsi bencana tsunami di Palu-Donggala, tsunami Selat Sunda, banjir Jakarta, gempa bumi di Ambon, serta acara bakti sosial seperti Ekspedisi NKRI - Bakti PMK 2017 dll.

Pengkajian pangan darurat BiskuNEO dimulai tahun 2007 hingga 2009 dengan kegiatan perekayasaan di laboratorium, berupa formulasi pangan serta pengujian efikasi dan toksisitas. Sebagai hasil perekayasaan, Paten granted (bernomor ID P0030042) dan penghargaan 101 Inovasi Indonesia dari Kemenristek berhasil diperoleh di tahun 2009. Dilanjutkan di tahun 2010, formula pangan darurat BiskuNEO diujicobakan produksinya di industri melalui alih teknologi kepada industri, PT. Tiga Pilar Sejahtera, dan didapatkan produk BiskuNEO dengan ijin edar BPOM (MD 627111017335) dan Sertifikasi Halal. Di tahun 2011, melalui Pusat Pelayanan Teknologi (Pusyantek) BPPT, mendapatkan kontrak lisensi produksi BiskuNEO oleh PT. Tiga Pilar Sejahtera, atas permintaan BASARNAS sebanyak 150 ribu bungkus. Setelah itu, permintaan BiskuNEO sempat terhenti selama 6 tahun (hingga 2017) dikarenakan PT. Tiga Pilar Sejahtera tidak bisa melayani produksi biskuit di bawah 100 ribu bungkus. Di tahun 2017, BPPT kembali mendapatkan tempat maklon baru, yaitu PT. Makindo Perdana di Jakarta, yang dapat menerima pemesanan/maklon produksi di bawah 100 ribu bungkus. Tahun 2017-2019, atas permintaan dari Yayasan Baitul Mal Bank Rakyat Indonesia (YBM - BRI), kembali dilakukan kontrak lisensi antara Pusyantek BPPT dengan PT. Makindo Perdana, dan produk BiskuNEO kembali didaftarkan ijin edar BPOM (MD 235609023022) dan sertifikasi HALAL nya.

Kegiatan perekayasaan pangan darurat terus dilanjutkan ke depan untuk menghasilkan produk2 pengembangan pangan darurat (diversifikasi produk), seperti pangan instan dan pangan siap saji serta pangan darurat khusus untuk golongan rentan seperti bayi, ibu hamil, ibu menyusui dan golongan lansia. BPPT tetap konsisten menjalankan fungsi dan peran nya untuk menghela pertumbuhan ekonomi melalui pemanfaatan sumber daya lokal menghasilkan produk pangan yang berdampak terhadap pemecahan masalah nasional.