Kerjasama antara BPPT dan PT INKA

Kerjasama antara BPPT dan PT INKA

28 Februari 2020 Administrator

Badan Pengkajian dan Penerapan Tekologi (BPPT) bersama PT Industri Kereta Api (Persero) sepakat jalin kerjasama yang tertuang dengan ditandatanganinya Nota Kesepahaman Bersama. Kepala BPPT Hammam Riza dalam sambutannya menyampaikan bahwa penandatanganan ini bertujuan untuk menunjang pengembangan dan pembangunan industri perkeretaapian nasional.

 

Hal ini sesuai dengan kebijakan pembangunan nasional untuk substitusi impor dan peningkatan TKDN yang diwujudkan dalam Flagship Inovasi Teknologi Perkeretaapian tahun 2020-2024 dengan BPPT sebagai koordinator, ungkap Hammam usai penandatanganan, di jakarta (26/02).

 

Berlandaskan pada Nota Kesepahaman Bersama ini, lanjutnya BPPT dan INKA ke depan dapat mengajak semua stakeholder industri perkeretaapian dan transportasi perkotaan untuk berkontribusi dalam konsorsium prioritas riset nasional inovasi teknologi perkeretaapian untuk mencapai target Flagship untuk prototipe kereta regional dengan kecepatan 250 km/jam maupun peningkatan tingkat kandungan lokal kereta perkotaan menuju 80%.

 

Lebh lanjut, guna mencapaian target tersebut, maka pengembangan perangkat laboratorium pengujian baru untuk sistem propulsi untuk teknologi boogie maupun pengembangan test track untuk sarana dan prasarana kereta api menjadi salah satu prioritas.

 

Disaat yang sama Direktur Utama PT Industri Kereta Api (Persero) Budi Noviantoro mengatakan, INKA adalah satu-satunya pabrik Kereta di ASEAN. Maka kedepannya kata Budi, akan mengembangkan produk kereta kelas menengah keatas dan juga menengah kebawah untuk negara seperti Banglades, Afrika, juga ingin dijual kenegara yang utamakan qualitas, butuh BPPT untuk kesiapan INKA memproduksi kereta grade A.

 

INKA bisa buat boogie tapi tidak bisa mengetes testnya, juga test propulsinya. Saat ini yang sudah dibuat adalah satu set kereta dengan 16 mesin dibuat di PT Pindad. Guna bisa lolos tes propulsi di Spanyol, maka butuh bantuan BPPT, kalau ini berhasil maka TKDN kita akan meningkat.

 

Terkait kereta cepat kata Budi, membutuh riset besar untuk bisa produksi kereta cepat juga diperlukan kerjsama dengan BPPT, kereta cepat sudah punya modal, secara teknologi sudah oke, tinggal diperkuat supaya yakin perlu uji coba test propulsi boogie dan test track, ujarnya. (Humas/HMP)